arrow_upward

Mikrobioma Mulut dan Dampaknya bagi Kesehatan Tubuh

Friday, 12 September 2025 : September 12, 2025


Oleh : Dr. drg. Meiza Nerawati, M.Biomed

Banyak orang menganggap kesehatan gigi dan mulut hanya sebatas gigi
berlubang dan bau mulut saja. Padahal, di dalam rongga mulut terdapat sebuah
“ekosistem” yang sangat kompleks dan berperan besar terhadap kesehatan tubuh
secara keseluruhan. Ekosistem ini dikenal sebagai mikrobioma mulut.

Apa Itu Mikrobioma Mulut?


Mikrobioma mulut adalah kumpulan mikroorganisme yang terdiri dari bakteri,
jamur dan virus yang hidup secara alami di rongga mulut. Dalam kondisi normal,
mikroorganisme ini hidup seimbang dan membantu menjaga kesehatan rongga mulut
dan mencegah kolonisasi bakteri patogen. Tetapi, bila keseimbangan ini terganggu,
mikrobioma mulut dapat berubah menjadi sumber masalah. Perubahan komposisi
mikroba inilah yang menjadi awal terjadinya berbagai penyakit gigi dan mulut, seperti
karies (gigi berlubang) dan penyakit gusi.

Mulut : Gerbang Awal Kesehatan Tubuh

Rongga mulut merupakan pintu masuk utama ke dalam tubuh. Setiap hari, kita
menelan air liur yang mengandung jutaan bakteri. Dalam kondisi sehat, sistem
pertahanan tubuh mampu mengontrolnya. Namun, bila terjadi infeksi kronis di mulut,
seperti radang gusi (gingivitis) dan periodontitis, bakteri dan produk racunnya dapat
masuk ke aliran darah. Inilah sebabnya mengapa kesehatan mulut tidak bisa
dipisahkan dari kesehatan tubuh secara umum.

Hubungan Mikrobioma Mulut dengan Penyakit Sistemik

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa gangguan mikrobioma mulut berkaitan
dengan sejumlah penyakit sistemik, antara lain:

1. Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah

Bakteri penyebab penyakit gusi dapat memicu peradangan kronis, mengaktivasi
sistem imun tubuh dan menyebabkan pelepasan mediator inflamasi ke dalam aliran
darah. Peradangan kronis ini berkontribusi terhadap perkembangan dan perburukan
aterosklerosis, yaitu proses penumpukan plak di pembuluh darah, yang meningkatkan
risiko penyakit jantung koroner dan stroke.

2. Diabetes Mellitus

Hubungan antara diabetes dan mikrobioma mulut bersifat dua arah. Disbiosis
yang terjadi di rongga mulut menyebabkan inflamasi sistemik yang memicu resitensi
insulin, sedangkan hiperglikemia pada dibetes menciptakan lingkungan yang
mendukung pertumbuhan bakteri penyebab penyakit periodontal.

3. Gangguan Pernapasan

Aspirasi mikro dari saliva dan plak gigi merupakan mekanisme utama
perpindahan bakteri oral ke saluran pernafasan. Kondisi ini sering terjadi pada pasien
dengan gangguan refleks menelan, pasien lanjut usia, serta pasien yang menggunakan
ventilator. Migrasi mikrobioma mulut melalui aspirasi mikro atau jalur hematogen ini
dapat mengubah komposisi mikrobioma paru dan berkontribusi terhadap disbiosis
paru. Hal ini meningkatkan risiko penyakit paru seperti pneumonia.

4. Kehamilan Berisiko

Perubahan hormon pada masa kehamilan menyebabkan disbiosis mikrobioma
mulut dan meningkatkan risiko penyakit periodontal. Bakteri penyebab penyakit
periodontal dan mediator inflamasi dapat masuk ke sirkulasi darah dan plasenta.
Inflamasi sitemik dan plasenta memicu kontraksi uterus secara dini dan menyebabkan
gangguan kehamilan. Kondisi ini meningkatkan risiko persalinan prematur, berat
badan lahir rendah dan preeklamsia.

5. Penyakit radang usus (Imflamatory Bowel Disease/IBD)

Bakteri dari rongga mulut tertelan melalui air liur dan masuk ke saluran
pencernaan. Pada individu sehat, bakteri-bakteri ini biasanya tidak menimbulkan
masalah. Tetapi pada pasien dengan IBD, saat sistem imun usus melemah,
memungkinkan bakteri yang ada di rongga mulut masuk ke usus dan menyebabkan
disbiosis.

Biofilm Gigi : Kunci Masalah Mikrobioma

Salah satu konsep penting dalam mikrobioma mulut adalah biofilm gigi, yang
lebih dikenal masyarakat sebagai plak gigi. Biofilm bukan sekadar lapisan kotoran,
melainkan komunitas mikroba yang terorganisir dan dilindungi oleh matriks khusus,
sehingga resisten terhadap antibiotik. Inilah alasan mengapa menyikat gigi dan
melakukan pembersihan secara mekanis (scaling) sangat penting untuk menjaga
keseimbangan mikrobioma.

Gaya Hidup dan Keseimbangan Mikrobioma

Keseimbangan mikrobioma mulut sangat dipengaruhi oleh kebiasaan sehari-hari,
antara lain : konsumsi gula berlebihan, kebersihan gigi dan mulut yang buruk,
merokok, stres dan kurang tidur. Kebiasaan-kebiasaan tersebut dapat menggeser
mikrobioma mulut dari kondisi sehat (eubiosis) menuju kondisi yang mendukung
pertumbuhan bakteri patogen (disbiosis).

Menjaga Mikrobioma Mulut Tetap Sehat

Menjaga kesehatan mikrobioma mulut tidak selalu berarti membunuh semua
bakteri. Yang terpenting adalah menjaga keseimbangannya. Beberapa langkah
sederhana yang dapat dilakukan antara lain menyikat gigi dua kali sehari dengan
teknik yang benar. Membersihkan sela gigi dengan benang gigi. Membatasi konsumsi
gula dan makanan lengket. Berhenti merokok dan rutin memeriksakan gigi ke dokter
gigi setiap enam bulan

Penutup

Mikrobioma mulut adalah bagian tak terpisahkan dari kesehatan tubuh secara
menyeluruh. Mulut yang sehat bukan hanya soal senyum yang indah, tetapi juga
investasi jangka panjang bagi kesehatan jantung, pernafasan, pencernaan dan kualitas
hidup. Sudah saatnya kita memandang kesehatan gigi dan mulut bukan sebagai hal
yang sepele, melainkan sebagai fondasi penting dari kesehatan tubuh secara
keseluruhan.


Referensi

Gaeckle N.T, Pragman A.A, Pendleton KM, et al. ( 2020) The Oral-Lung Axis: The
Impact of Oral Health on Lung Health. Respiratory Care.Vol 65.No 8
Kilian, M., Chapple, I.L.C., Hannig, M. et al. (2016) The oral microbiome – an
update for oral healthcare professionals. British Dental Journal, 221(10).
Lam, G.A., Albarrak, H., McCll, C.J., et al. (2023). The Oral–Gut Axis: Periodontal
Diseases and Gastrointestinal Disorders, Crohn’s & Colitis Foundation.2023, 29,
1153–1164
Marsh, P.D and Zaura, E. (2023) Dental biofilm: ecological interactions in health and
disease. Journal of Clinical Periodontology, 50(Suppl. 26), pp. 3–12.
Sanz, M., Marco del Castillo, A., Jepsen, S. et al. (2020) Periodontitis and
cardiovascular diseases. Journal of Clinical Periodontology, 47(3), pp. 268–288.
Wade, W.G. (2021) Resilience of the oral microbiome. Periodontology 2000, 86(1),
pp. 113–122.
Wang Z, Kaplan R.C, Burk R.D and Qi Q. (2024) The Oral Microbiota, Microbial
Metabolites, and Immuno-Inflammatory Mechanisms in Cardiovascular
Disease.Preprints.org.doi:10.20944/preprints202411.0213.v1doi: